Hidup Penuh Perjuangan

 Setiap orang memiliki perjalanan hidup masing-masing.

Ada yang datar biasa-biasa aja, sedang jatuh bangun bahkan sampai di titik ekstrim.

Kisah perjuanganku berawal dari TK. Saat itu, usiaku menginjak 5 tahun. Setiap harinya, aku ke sekolah bersama teman-temanku yang bernama, Alfiah dan Fatimah. Kebetulan rumah mereka tidak jauh dari rumahku. Kami berangkat bersama dengan berjalan kaki dari rumah ke sekolah. Kami menyusuri rel kereta api, karena sekolah kami dekat dengan perlintasan kereta api. Kami tidak diantar oleh orang tua karena adanya kesibukan untuk bekerja. Kenangan yang membekas saat tingkat ini adalah saat aku mabuk perjalanan ketika jalan-jalan ke Jogja. Yang aku ingat saat itu ialah aku ingin pulang jalan kaki dari Museum Dirgantara karena mabuk perjalanan jadi tidak mau naik bus.

Untuk masa kini, anak TK diantarkan oleh orang tuanya dengan motor dan ditunggui.

Jadi, yang bisa diambil perbandingan antara masa TK-ku dengan masa kini adalah perihal kemandirian dan keberanian.

Menuju tingkat SD, kami masih bersekolah di tempat yang sama. Kami pun menaiki sepeda karena dari rumah ke sekolah dirasa cukup lelah jika harus berjalan kaki. 6 tahun berlalu bersama, kita menapaki jejak pendidikan masing-masing. Alhamdulillah, aku termasuk siswa berprestasi di setiap tingkat. Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang SMP.

Saat itu, aku memilih SMP 7 sebagai target sekolah lanjutanku. Akan tetapi, untuk media waspada melihat NIM yang diterima bergeser-geser. Aku pun diberi saran agar mencabut pendaftaran di sekolah tujuanku tersebut dan memindahkanva ke SMP 8. Sedangkan, Fatimah di Espero dan Alfiah di SMP Mudaska. 

SMP ku jauh dari rumah. Bapak menyarankan agar aku tinggal di tempat nenek yang dekat dengan sekolah. Akan tetapi, setelah ku pikir lebih baik aku laju dari rumah ke sekolah. Setiap hari rumah ke sekolah ku tempuh dengan naik sepeda. Saat itu, hanya aku yang berasal dari Boyolali sedangkan yang lain berasal dari Solo, Karanganyar, Sragen, dan Sukoharjo. Saat di tingkat SMP aku tidak mendapatkan juara karena teman-teman banyak yang pandai. Inget betul ada guru bahasa Indonesia yang melihat semangatku. Akhirnya, aku diberikan tas untuk ke sekolah dan pengajian. Study tour di SMP ke Bali, aku pun mabuk perjalanan lagi. Aku berbohong bilang kalau sudah minum obat anti mabuk padahal belum minum. Eits... jangan ditiru ya. Aku udah tobat kok. Saat itu aku dibilang gaptek karena banyak teman yang memiliki HP canggih dan akun sosmed. Sedangkan, aku masih HP biasa dan akun sosmed yang dimiliki hanya FB aja.

3 tahun sudah menyelami ilmu SMP, akhirnya aku melanjutkan ke SMK ya bisa dibilang SMK favorit di Solo. Aku masuk SMK 6 dengan Jurusan Akuntansi. Karena aku hobi berhitung, maka aku ambil jurusan Akuntansi. Di tingkat SMK, aku juga masih menggunakan sepeda sebagai alat transportasi untuk melaju dari rumah ke sekolah. Sedangkan, banyak temanku sudah menggunakan motor. Saat masuk SMK sebenarnya agak dilema pengen berhijab tapi disisi lain terkendala dengan biaya. Karena kakakku juga di sekolah dan jurusan yang sama. Akhirnya, aku memutuskan untuk belum menggunakan hijab. Namun saat kakakku sudah selesai dan tidak sekolah, aku langsung mengenakan pakaian yang dipakai oleh kakakku dulu. Yah, termasuk ngirit sih. Alhamdulillah, aku juga mendapat biasiswa karena cukp berprestasi meskipun tidak berasal dari Solo. Mayoritas yang mendapatkan bantuan berasal dari Solo (Biasiswa Plus).

Oiya, sebelum masuk SMK ada yang namanya MOS. Tidak asing lagi kan?

MOS saat di angkatanku diambil alih oleh pihak TNI AU Adi Soemarmo. Yah, saat itu bener-bener kek ngerasa disiksa habis-habisan. Antara mau nangis pulang tapi gak bisa. Kenangan yang membekas adalah kami disuruh jalan melewati selokan-selokan yang ada di area bandara. Setelah itu, makan pun diberikan waktu.  Untuk tahap pertama, jika belum selesai disuruh maju dan makanan yang belum selesai ditukar dengan punya teman. Hari terakhir disuruh jalan kaki dari Markas TNI sampe SMK. Banyak yang berpura-pura sakit biar gak jalan kaki. Tapi alhamdulillah, aku kuat ngehadepinnya. Kan udah berjuang sejak dini. Wkwkkwk. Saran buat bapak-bapak TNI, kalo ngedidik yang bermanfaat ya Pak :). hehehe.

Banyak ilmu di SMK karena aku juga ikut ekstrakurikuler PMR. Yah meskipun badanku kecil, akan tetapi menurutku ilmu yang diperoleh saat PMR begitu banyak manfaatnya untuk kehidupan. Dari PMR, aku mengenal ektrakurikuler yang lain seperti Pramuka, Paskibra, dan lainnya. Ada enak dan enggaknya, tapi yang mau ku bagikan kisah yang enak saja ya. Saat menjadi anggota PMR kebetulan ada diklat-diklat baik ruang maupun lapang. Itu banyak gak enaknya, tapi bener-bener ngelatih mental. Dari dibentak, drama-drama yang dirasa kurang etis. Sampe saat itu hari diklat lapang bertepatan dengan hari lahirku. Aku berasa dibantai habis-habisan. Mau ngapa-ngapain berasa salah. Saat itu disuruh nyari identitas PMR, dan kebetulan aku masuk jebakannya. Bener nangis karena jiwa kursaku lumayan. Ternyata aku baru sadar aku dikerjain kating. Diklat tersebut berakhir bahagia.

Kenangan di saat SMK juga, kebetulan saat itu aku menjadi perwakilan dari PMR untuk mengikuti diklat kepemimpinan yang diadakan oleh Kodim Manahan Solo. Saat itu diklat yang bener-bener enak daripada waktu MOS. hehehe. Selain makanan enak, cara mendidiknya pun juga berfaedah yakni dengan adanya seminar/workshop yang menambah wawasan. Praktik mendirikan tenda sendiri yang mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. Sayang, waktu itu bertepatan dengan meletusnya gunung Kelud. Dari panitia, menghendaki untuk mengakhiri acara karena takut menanggung banyak nyawa.

Masa-masa SMK penuh cerita, saat itu ada masa PKL atau OJT. Aku ditempatkan di PT Asia Marko. Ya, saat itu awalnya cuma disuruh fotokopi. Tapi seiring berjalannya waktu, aku disuruh belajar menggunakan mesin ketik manual. Aku belajar sampe beberapa kali dan alhamdulillah saat itu sudah bisa. Setelah belajar mesin ketik. Aku juga disuruh membantu mengerjakan laporan keuangan koperasi karyawan dari tahap awal hingga penyusunan laporan keuangan. Alhamdulillah, meskipun cuma di PT yang produksinya rokok tapi aku bisa nerapin ilmu saat di sekolah. Oiya, saat itu aku bareng kelas lain yang bernama Ambar. Saat PKL aku pun masih menggunakan sepeda, sedangkan temanku menggunakan motor.

Ceritanya belum selesai. Tungguin next kisahku ya....

Closing statement:

Ternyata kebiasaan bermula dari keterpaksaan yang diulang-ulang dalam kurun waktu yang lama. Menggapai impian itu perlu tapi tidak harus memaksakan keadaan. Senangilah apa yang saat ini terjadi pada dirimu dan bersyukurlah. Dari syukur tersebut bisa menambah nikmat dan bisa jadi harapan kita diganti Allah dengan jalan yang terbaik. 

Sumber: Pengalaman Pribadi

Komentar